Ada pertanyaan?

Isi form singkat, tim kami segera hubungi.

Anak Rantau Selalu Bilang “Aku Baik-Baik Aja”, Padahal Ibu Tahu Itu Bohong

SJA TEXTILE – Ada satu kalimat yang paling sering diucapkan anak rantau setiap kali orang tua menelepon: “Aku baik-baik aja, Bu.”

Kalimat pendek itu terdengar sederhana, tapi sering kali menyimpan hari yang berat, air mata yang ditahan, dan lelah yang tidak ingin dibagikan lewat telepon.

Anak rantau memang begitu — pandai berbohong demi satu alasan: supaya orang di rumah tidak ikut khawatir.

Jauh dari rumah, hidup anak rantau memang tidak selalu semanis yang terlihat di foto-foto yang dikirim ke keluarga.

Ada pagi yang dimulai dengan alarm jam lima, ada kereta atau angkot yang berdesakan, ada bos yang marah karena kesalahan kecil, dan ada malam yang dihabiskan sendirian di kamar kos sambil menatap langit-langit.

Namun, begitu telepon dari rumah berbunyi, semua kelelahan itu buru-buru disembunyikan di balik suara yang dibuat seceria mungkin.

Kenapa Anak Rantau Selalu Bilang “Aku Baik-Baik Aja”

Sebenarnya, bukan karena anak rantau tidak ingin jujur. Justru karena mereka terlalu sayang untuk membebani.

Keputusan merantau itu sendiri biasanya lahir dari niat baik: ingin membahagiakan orang tua, ingin membuktikan diri, ingin suatu hari pulang membawa kabar baik.

Jadi, ketika kenyataan di ibu kota tidak semulus rencana, anak rantau memilih menelan sendiri kekecewaannya, lalu menjawab telepon dengan nada paling ringan yang bisa mereka buat.

Padahal, di balik kalimat “aku baik-baik aja” itu, sering kali ada cerita yang jauh lebih rumit — seperti yang dialami Rara, salah satu tokoh dalam series PULANG dari SJA Textile.

Cerita Rara: Anak Rantau yang Berjuang Sendirian di Ibu Kota

Rara pergi merantau dengan satu mimpi sederhana: ingin membahagiakan orang tuanya.

Namun, kenyataan di ibu kota tidak semudah yang dibayangkan. Setiap hari dimulai pagi-pagi dan berakhir larut malam, dan hampir setiap hari pula dia pulang membawa rasa gagal yang baru.

Di mata bosnya, apa pun yang Rara kerjakan selalu terasa kurang.

Suatu sore, di tengah tumpukan pekerjaan yang belum selesai, ponsel Rara bergetar.

Satu nama muncul di layar: “Ibu ❤️”. Rara menarik napas panjang, menyiapkan suara paling ceria yang bisa dia buat, baru kemudian mengangkat telepon.

“Sudah makan?” tanya Ibu dari seberang telepon.
“Sudah, Bu. Aku baik-baik aja,” jawab Rara cepat.

Padahal, di mejanya, laptop masih menyala dengan deadline yang menumpuk di sticky note, dan kotak makan siangnya belum tersentuh sama sekali.

Kenapa Ibu Selalu Tahu, Walau Anaknya Bilang Baik-Baik Aja

Di ujung telepon, Ibu terdiam sejenak. Hanya dua detik, tapi cukup untuk membuat sesuatu berubah di matanya — Ibu mendengar apa yang tidak dikatakan anaknya.

Dan menariknya, Ibu tidak bertanya soal pekerjaan sama sekali. Tidak ada “kenapa”, tidak ada “ada masalah apa”.

Ibu hanya tertawa kecil dan berkata, “Ibu tiba-tiba inget… dulu kamu suka banget bikin baju boneka, Ra. Sampai kain perca Ibu habis.”

Dan seketika, Rara tertawa. Bukan tawa yang dipaksakan seperti biasanya, melainkan tawa pertama yang benar-benar jujur hari itu.

Begitulah cara ibu bekerja. Dia tidak butuh penjelasan panjang untuk tahu anaknya sedang tidak baik-baik saja.

Cukup dari jeda sebelum menjawab, dari nada suara yang terlalu ceria, atau dari cerita yang tiba-tiba berhenti di tengah kalimat.

Seperti kata Rara sendiri setelah menutup telepon malam itu: “Ibu tidak menanyakan pekerjaanku. Tapi entah kenapa, beliau tahu persis cerita apa yang aku butuhkan malam itu.”

Kain, Kerudung, dan Semua Hal Kecil yang Menjadi Pengingat Rumah

Bagi anak rantau, rumah tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar.

Kadang, rumah hadir lewat hal-hal kecil yang dikirim dari jauh: paket berisi baju boneka lama, surat tulisan tangan yang diselipkan di antara kain, atau kerudung yang dipilih Ibu jauh-jauh hari sebelum anaknya sempat memintanya.

Pada momen-momen itu, kain bukan lagi sekadar bahan pakaian, kain menjadi cara Ibu memeluk anaknya dari jarak yang jauh.

Itulah yang coba dihadirkan SJA Textile lewat series PULANG: bahwa di balik setiap kain yang dipilih dengan penuh perhatian, ada seseorang di rumah yang terus memikirkan anaknya, bahkan ketika anaknya sendiri berusaha terlihat baik-baik saja.

Pada akhirnya, tidak ada anak rantau yang benar-benar baik-baik saja setiap saat dan itu wajar.

Namun, seperti yang dialami Rara, terkadang yang dibutuhkan bukan solusi atas masalah pekerjaan, melainkan satu ingatan hangat dari rumah yang membuat semuanya terasa lebih ringan untuk dijalani sedikit lebih lama lagi.

Tonton kisah Rara selengkapnya di sini

Share this :