SJA TEXTILE – Masih banyak brand owner fashion yang belum paham tentang Brand DNA dan bagaimana cara menentukan positioningnya.
Brand DNA sendiri terdiri dari 3 pertanyaan penting, dimulai dari brand kamu untuk siapa, apa yang bikin brand kamu beda, dan kenapa orang harus percaya sama kamu.
Setelah kamu menjawab ketiganya, kamu bisa menentukan positioning brand, yaitu posisi yang ingin kamu tempati di benak pelanggan dibanding brand lain.
Karena itu, brand baru perlu mengenal dirinya lebih dulu. Positioning yang kamu buat tanpa jawaban yang jelas hanya akan meniru brand lain.
Apa Itu Brand DNA?
Seperti DNA pada tubuh, brand DNA membawa ciri khas yang muncul di setiap bagian brand. Ciri khas itu lahir dari tiga pertanyaan:
| Pertanyaan | Yang kamu putuskan | Ibarat |
| 1. Brand kamu untuk siapa? | Audiens yang kamu layani | Kepada siapa kamu bicara |
| 2. Apa yang bikin brand kamu beda? | Pembeda yang tidak dimiliki brand lain | Alasan orang memilihmu |
| 3. Kenapa orang harus percaya sama kamu? | Bukti bahwa kamu sanggup memenuhi janji | Alasan orang yakin |
Dari tiga jawaban ini, tampilan visual brand (tema, warna, dan mood) akan mengikuti.
Dengan kata lain, brand DNA menjawab “brand ini seperti apa?” sebelum kamu menjawab “brand ini menjual apa?”.
Seperti apa jawaban yang lemah dan yang kuat?
| Pertanyaan | Jawaban lemah | Jawaban kuat |
| Untuk siapa? | “Semua perempuan” | “Ibu muda urban usia 25–35 yang butuh baju harian nyaman” |
| Apa yang beda? | “Kualitas bagus dan harga terjangkau” | “Baju modest yang tetap adem dipakai seharian, dengan bahan yang kami pilih berdasarkan kenyamanan” |
| Kenapa percaya? | “Kami terpercaya” | “Kamu bisa memegang swatch kain sebelum membeli, dan kami menjelaskan proses produksinya” |
Contoh di atas hanya ilustrasi
Apa Itu Positioning Brand?
Positioning brand adalah posisi yang ingin kamu tempati di benak pelanggan dibanding brand sejenis.
Jika brand DNA berbicara tentang dirimu, positioning berbicara tentang pasarmu.
Positioning menjawab satu pertanyaan tambahan: di antara banyak pilihan, kenapa pelanggan harus memilih kamu?
Apa bedanya brand DNA dan positioning brand?
| Brand DNA | Positioning brand | |
| Pertanyaan | Untuk siapa, apa yang beda, kenapa percaya? | Di mana posisi brand-ku dibanding yang lain? |
| Arah | Ke dalam: dirimu sendiri | Ke luar: pasar dan kompetitor |
| Dasar | Kejujuran tentang dirimu | Brand DNA, ditambah riset pasar |
| Hasil | Tiga jawaban tertulis | Satu kalimat positioning |
Singkatnya, brand DNA berperan sebagai fondasi, sedangkan positioning menempatkan fondasi itu di pasar.
Kenapa Brand Baru Perlu Mengenal Diri Dulu?
- Pertama, positioning tanpa brand DNA mudah berubah menjadi tiruan. Kamu hanya menyalin brand yang sedang laku. Akibatnya, pelanggan tidak punya alasan untuk memilihmu.
- Kedua, brand DNA tanpa positioning tidak punya arah di pasar. Kamu memang tahu siapa dirimu, tetapi kamu belum tahu di mana harus berdiri.
- Selain itu, tiga jawaban ini mempercepat keputusanmu. Kamu bisa menolak model, harga, atau kain yang tidak cocok tanpa menimbang lama.
- Terakhir, brand DNA menghemat modalmu. Brand yang tahu pelanggannya jarang membeli kain atau memproduksi model yang salah sasaran.
Bagaimana Menentukan Positioning Brand dari Brand DNA?
Langkah 1–3 membangun brand DNA, sedangkan langkah 4–5 mengubahnya menjadi positioning.
Langkah 1: Jawab “Brand kamu untuk siapa?”
Mulailah dari audiens. Tulis siapa mereka, apa yang mereka butuhkan, dan di rentang harga berapa mereka berbelanja.
Pilih satu segmen yang spesifik, jangan “semua orang”. Karena itu, tanyakan dirimu: siapa satu orang yang paling ingin saya layani?
Langkah 2: Jawab “Apa yang bikin brand kamu beda?”
Selanjutnya, tulis pembedamu. Bandingkan apa yang kamu tawarkan dengan yang biasanya ditawarkan brand lain, lalu pilih satu hal yang paling kuat.
Langkah 3: Jawab “Kenapa orang harus percaya sama kamu?”
Kemudian, cari buktinya. Bisa berupa proses produksi yang kamu jelaskan terbuka, bahan yang pelanggan bisa pegang lewat swatch, hasil uji sample, pengalaman kamu di bidang ini, atau testimoni pelanggan nyata.
Setelah tiga langkah ini, kamu sudah punya brand DNA.
Langkah 4: Riset kompetitor dan cari celah
Sekarang, mulailah menentukan positioning. Pelajari 5–10 brand di segmen yang sama. Catat harga, produk terlaris, dan keluhan pelanggan mereka.
Keluhan pelanggan sering menjadi peluang terbesar, karena menunjukkan kebutuhan yang belum terpenuhi.
Setelah itu, Lihat area yang masih kosong, lalu tanyakan apakah brand DNA-mu cocok mengisinya.
Langkah 5: Tulis pernyataan positioning, lalu uji
Terakhir, rangkum tiga jawaban brand DNA dan celah pasarmu dalam satu kalimat:
Contoh ilustrasi untuk brand fiktif:
“Untuk ibu muda urban yang butuh baju harian nyaman seharian, Brand X adalah modest daily wear yang tetap adem dan rapi, karena kamu bisa memegang swatch kainnya sebelum membeli dan kami menjelaskan proses produksinya.”
Setelah itu, tanyakan kalimat ini kepada 10–15 calon konsumen. Catat apakah mereka memahaminya, apakah mereka merasa terwakili, dan apa yang membedakan brand-mu menurut mereka.
Lalu revisi kalimatmu dan cek kembali apakah ia masih sesuai dengan tiga jawaban brand DNA.
Contoh dari Brand DNA ke Positioning
Contoh di bawah ini ilustrasi untuk brand fiktif.
| Tahap | Isi |
| Brand DNA 1: untuk siapa | Ibu muda urban, 25–35 tahun |
| Brand DNA 2: apa yang beda | Modest daily wear yang adem seharian, bahan dipilih demi kenyamanan |
| Brand DNA 3: kenapa percaya | Swatch kain bisa dipegang sebelum beli, proses produksi dijelaskan terbuka |
| Riset kompetitor | Banyak brand sejenis memakai bahan mengilap, dan pelanggan mengeluh panas |
| Celah | Modest daily wear yang adem di harga menengah |
| Positioning | Modest daily wear paling nyaman untuk ibu muda urban |
Kesalahan Umum dalam Menyusun Brand DNA dan Positioning
- Pertama, banyak pemilik brand menjawab “untuk siapa” dengan “semua orang”. Akibatnya, pesan brand-nya tidak mengena ke siapa pun.
- Kedua, mereka menulis pembeda yang terlalu umum, seperti “berkualitas dan terjangkau”. Karena itu, semua brand terdengar sama.
- Selain itu, sebagian pemilik brand menyebut pembeda tanpa bukti. Dengan demikian, pelanggan tidak punya alasan untuk percaya.
- Berikutnya, ada yang menetapkan positioning tanpa meriset kompetitor. Padahal, riset itu menunjukkan celah yang sebenarnya.
- Terakhir, banyak yang tidak menguji positioning ke calon pelanggan. Sebagai hasilnya, asumsi yang salah baru terlihat setelah stok jadi.
Butuh Teman Berdiskusi?
Fabric Consultant dan Fashion Advisor SJA Textile membantu kamu menerjemahkan brand DNA dan positioning menjadi pilihan kain serta ide desain yang tepat.
Itulah arti tagline kami: The Trusted Fabric Partner Behind Your Brand.
Bawa tiga jawaban brand DNA dan hasil risetmu, lalu konsultasikan gratis dengan Fabric Consultant SJA Textile untuk menerjemahkannya ke pilihan kain dan produk.



