Ada pertanyaan?

Isi form singkat, tim kami segera hubungi.

Tren Bisnis Athleisure: Cara Memilih Bahan Kain yang Nyaman dari Gym hingga Hangout

TYGRKNIT – Tren bisnis athleisure di Indonesia sedang berada di fase yang sangat menjanjikan buat siapa pun yang mau terjun ke industri fashion.

Soalnya, pergeseran gaya hidup masyarakat ke arah yang lebih sadar kesehatan bikin kategori fashion ini nggak lagi sekadar tren sementara.

Athleisure sekarang jadi identitas sosial, bukan cuma soal fungsi olahraga semata.

Nah, kalau kamu lagi mempertimbangkan masuk ke bisnis ini, artikel ini bakal bahas seberapa besar peluangnya, sekaligus cara memilih bahan kain yang tepat.

Dari sesi gym sampai nongkrong santai—biar produk kamu bisa bersaing di pasar yang makin kompetitif.

Seberapa Besar Peluang Tren Bisnis Athleisure di Indonesia?

Sebelum masuk ke soal bahan, penting untuk lihat dulu gambaran besarnya.

Menurut salah satu jejaring media massa, pendapatan dari segmen fashion olahraga di Indonesia tahun 2025 mencapai US$437,72 juta atau setara Rp7,7 triliun.

Angka ini terus mengalami peningkatan berkat kombinasi tren kesehatan, urbanisasi, dan pengaruh media sosial.

Bahkan menurut viva.co.id pasar athleisure global diperkirakan mencapai US$662,5 miliar atau sekitar Rp 11.681,2 triliun pada 2030—angka yang menunjukkan ini bukan sekadar tren musiman.

Yang lebih menarik, menurut Kontan.co.id, konsumsi fashion sport sekarang tidak hanya untuk memenuhi fungsi olahraga, tetapi juga sebagai identitas sosial.

Pergeseran perilaku konsumen inilah yang bikin banyak korporasi besar aktif melebarkan sayap bisnisnya di lini fashion sport.

Kenapa Athleisure Jadi Tren Fashion yang Bertahan Lama?

Salah satu alasan utamanya adalah pergeseran fungsi pakaian olahraga itu sendiri.

Pakaian olahraga tak lagi terbatas di gym, melainkan juga dipakai untuk aktivitas sehari-hari seperti nongkrong di kafe, belanja, hingga traveling.

Fenomena “gym to street” inilah yang membuat athleisure berbeda dari sekadar baju olahraga konvensional—ia harus bisa tampil fungsional sekaligus estetik.

Konsumen masa kini, terutama generasi Milenial dan Gen Z, mengutamakan pakaian yang stylish, nyaman, dan bisa dipakai dalam berbagai aktivitas.

Target pasarnya pun beragam—mulai dari penggemar kebugaran, praktisi yoga, komunitas lari, sampai pengguna kasual yang menyukai athleisure sebagai gaya hidup sehari-hari.

Tantangan Utama: Bahan Kain yang Bisa “Gym to Street”

Nah, di sinilah tantangan terbesar brand athleisure muncul.

Kalau kamu cuma fokus di fungsi olahraga, produkmu bakal terlihat terlalu “sporty” buat dipakai nongkrong.

Sebaliknya, kalau cuma fokus di gaya tanpa mikirin fungsi, produkmu bakal gagal memenuhi kebutuhan dasar konsumen yang aktif bergerak.

Solusinya ada di pemilihan bahan kain yang bisa menjembatani dua kebutuhan ini sekaligus—breathable dan nyaman buat olahraga, tapi tetap punya tampilan yang clean dan modern buat dipakai di luar konteks gym.

Kriteria Bahan Kain Athleisure yang Bisa Gym to Street

Berikut beberapa kriteria yang perlu diperhatikan brand yang ingin menyasar dua kebutuhan ini sekaligus:

  • Breathable dengan tampilan tetap premium — bukan cuma soal fungsi, tapi juga estetika visual yang relevan buat streetwear
  • Ringan tapi tetap terstruktur — mendukung gerak aktif tanpa membuat pakaian terlihat “lembek” atau kurang rapi
  • Technical look yang modern — visual yang bisa diterima baik di konteks olahraga maupun fashion kasual
  • Versatile lintas kategori produk — satu kain yang bisa dikembangkan jadi berbagai item, dari jersey sampai outer

Rekomendasi Bahan Kain untuk Bisnis Athleisure dari TYGRKNIT

Veloskin — Jembatan antara Fungsional dan Modis

Kain Athleisure Veloskin Bahan Dryfit

Salah satu kain yang paling relevan untuk kebutuhan “gym to street” ini adalah Veloskin dari TYGRKNIT.

Dengan tagline “Engineered Breathability. Smooth Performance. Made for Motion.”, Veloskin dirancang khusus untuk kebutuhan activewear, sportswear, dan high fashion streetwear dengan mobilitas tinggi.

Permukaannya menampilkan pola mikro yang membantu menciptakan tampilan technical, ringan, dan modern—persis karakter yang dibutuhkan buat brand yang mau masuk ke dua kategori sekaligus.

Sebagai bahan dryfit, Veloskin cocok untuk pakaian yang membutuhkan kenyamanan saat bergerak, sementara tampilannya yang tetap clean membuatnya mudah dikembangkan jadi koleksi olahraga maupun athleisure yang lebih fashionable.

Karakter ini yang bikin Veloskin bisa dipakai bukan cuma buat item olahraga inti seperti running t-shirt atau sport jersey, tapi juga untuk lightweight active outer dan high fashion streetwear.

Motion Weave — untuk Item Outer yang Tetap Structured

Kain Athleisure Motion Weave TYGRKNIT

Selain Veloskin, Motion Weave dari TYGRKNIT juga relevan buat kategori ini.

Kain woven berbahan 100% light polyester ini punya struktur yang lebih stabil dibanding kain knit, cocok buat windbreaker atau track jacket yang butuh tampilan lebih tegas dan “niat” saat dipakai di luar gym.

Avery Mesh — untuk Item Layering yang Breathable

Kain Athleisure Avery Mesh TYGRKNIT

Buat brand yang ingin menambahkan elemen layering dalam koleksinya, Avery Mesh dengan struktur rice knitting-nya bisa jadi pilihan untuk item seperti sport shirt atau training outfit yang tetap breathable saat dipakai berlapis dengan outer.

PUMA dari Dynaflow Series — untuk Sentuhan Streetwear Modern

Kain Athleisure Puma TYGRKNIT

Terakhir, PUMA dari Dynaflow Series TYGRKNIT punya struktur berpori halus dengan tampilan modern sporty yang relevan buat brand yang ingin menonjolkan sisi high fashion streetwear dalam koleksi athleisure-nya.

Strategi Membangun Brand Athleisure yang Kompetitif

Selain soal bahan, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan berdasarkan riset:

Pertama, bangun identitas merek yang kuat.

Tentukan apakah brand kamu ingin dikenal karena fokus pada performa, menyasar pasar athleisure yang stylish, atau justru mengusung pakaian olahraga yang ramah lingkungan.

Selanjutnya, tawarkan produk yang menonjol. Item seperti legging premium, kaos dry-fit, celana yoga fleksibel, atau sport bra dengan desain menawan bisa jadi diferensiasi di pasar yang makin ramai.

Terakhir, manfaatkan skema distribusi yang fleksibel.

Soalnya, banyak model bisnis kini menawarkan paket reseller atau keagenan untuk fashion olahraga, lengkap dengan sistem pelatihan dan dukungan pemasaran.

Opsi ini bisa membantu brand baru menjangkau pasar lebih luas tanpa membangun jaringan distribusi sendiri.

FAQ — Tren Bisnis Athleisure

Apa itu bisnis athleisure?

Bisnis athleisure adalah usaha yang bergerak di kategori fashion yang menggabungkan pakaian olahraga dengan gaya hidup sehari-hari. Produknya dirancang untuk fungsional saat berolahraga sekaligus stylish saat dipakai untuk aktivitas kasual seperti nongkrong atau traveling.

Bagaimana peluang bisnis athleisure di Indonesia?

Peluangnya cukup besar. Pendapatan segmen fashion olahraga di Indonesia tahun 2025 mencapai US$437,72 juta dan terus meningkat, didorong oleh tren gaya hidup sehat, urbanisasi, dan pengaruh media sosial terhadap gaya berpakaian masyarakat.

Kesimpulan

Jadi, tren bisnis athleisure di Indonesia menawarkan peluang yang sangat menjanjikan, asalkan brand kamu bisa menjawab kebutuhan konsumen yang menginginkan produk fungsional sekaligus estetik.

Nah, di sinilah memilih bahan kain yang tepat—seperti Veloskin dari TYGRKNIT dengan karakter breathable dan tampilan technical sporty-nya—jadi salah satu kunci supaya produk kamu bisa bersaing.

Fashion yang menggunakan bahan ini bisa digunakan baik di rak gym maupun di kafe tempat nongkrong.

Karena itu, bangun koleksi athleisure yang lebih ringan, breathable, dan siap gym to street bersama Veloskin dan koleksi lainnya dari TYGRKNIT.

Selain itu, temukan bahan dryfit dan performance fabric premium untuk kebutuhan activewear, sportswear, serta high fashion streetwear hanya di TYGRKNIT.

Share this :